"Dan
Bandung bagiku bukan Cuma masalah Geografis, lebih jauh dari itu
melibatkan perasaan , yang bersamaku ketika sunyi." Pidi Baiq
Itulah
sedikit kutipan mengenai kota kembang ini. Awal perjalananku kesana
dimulai jumat malam dengan kereta Mutiara Selatan, aku bersiap
menjelajahi indahnya kota itu. Berangkat dari stasiun Gubeng menuju
stasiun Bandung memakan waktu lebih dari 12 jam, kawan.
Perjalanan
serunya justru dimulai sejak aku berangkat, karena kondisi jalan yang
macet parah. Apalagi jalanan di area Tunjungan, macet parah, dan aku
baru ingat ternyata dikarenakan akhir pekan. Ok,
this is journey and you are keep spirit to solve this.
Setelah
nyaris
telat,
beruntung berbekal langkah seribu, eh salah dua ribu,
akhirnya
aku sampai dikursi nomor
11D duduk manis
disaat yang tepat. Sedikit terngah – engah nafasku. Tapi finally
sampe juga. Journey is begin !!!
Perjalanan
yang panjang dan melelahkan ini, aku sarankan kawan membawa bekal
yang cukup, baik makan maupun minuman. Sehingga kalian tahu apa yang
kalian mau selama menempuh perjalanan jauh. Sedikit membosankan
memang hanya duduk dan sesekali memandangi jendela, yang perlahan –
lahan mulai gelap.
Tak
satupun dapat terlihat kecuali lampu remang – remang di kanan –
kiri jalan. Serta palang pintu kereta yang sudah mengantre menunggu
gilirannya untuk dilewati. Sesekali tertidur, bangun, tidur lagi,
dengerin musik dari HP
ato mengobrol dengan orang disekitar kita.
Mungkin itu sedikit aktivitas yang dapat dilakuakan didalam kereta,
kawan.
Pagi
menjelang, di sabtu pagi. Matahari sudah muncul menyapa
siapa saja yang sudah menunggu kehadirannya. Pagi itu sesekali
mendung datang, namun itu tak menyurutkan semangatku untuk segera
sampai disana. Ya. Ini adalah pengalaman pertamaku berlibur di
Bandung. Kota yang terkenal dengan kulinernya, sepak bolanya, anak
mudanya yang kreatif. Everything…. !!!
Pagi
itu rencananya kami akan sampai di Bandung sekitar pukul 9. Namun
rupanya karena beberapa kendala sehingga kedatangannya pun terlambat.
Kami benar – benar menginjakkan kaki disana sekitar pukul 10.30,
udah agak siang memang. Kasian temanku yang sudah menunggu sejak
pagi, sorry mas bro… hehhe
Sudah
lama sekali kami tak berjumpa. Sejak kami beda SMA, kami sudah sibuk
dengan kegiatan masing – masing. Dan barulah kemarin kami bisa
berjumpa lagi. Dikota kelahirannya. Alhamdulillah kami masih bisa
bersilaturrahmi, kawan. Setelah
kami mengobrol ringan, kami menuju ke ITB. Bukan untuk kuliah kok,
tapi cuman berfoto – foto saja. Karena kebetulan adikku pengen
banget tau ITB itu kek gimana. Kebetulan juga temenku ini alumni ITB,
so bisa nanya – nanya ke dia. Sampai disana udah siang menjelang
dhuhur, sehingga kami sholat dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.
ITB
keren ya ? kampusnya orang – orang pinter. Kampusnya lumayan besar
dengan masih mempertahankan bangunan lamanya. Setelah dari ITB kami
pulang sebentar ke rumanya dia (Reza). Menaruh tas dan perlengkapan,
kemudian perjalanan dilanjutkan lagi kawan.
Tapi
ini diluar skenario, karena acaranya ke akad nikah dan resepsi
temennya. Ya gak apalah, sekalian jalan – jalan juga. Ternyata
Bandung kalo sabtu sama minggu macet parah, sumpah. Karena orang
Jakarta klo liburan ya ke Bandung. Jadi mohon bersabar, ini ujian
heheh. Untungnya
Bandung itu kotanya dingin, kagak panas kayak disini. Kotanya sejuk
dan bersih. Setelah mengikutin acara akad nikah dan resepsinya kami
segera istriahat dan akan melanjutkan perjalanan esok pagi.
Minggu,
30 Juli 2017
Hari
ini adalah hari terkahirku disini. Jadi aku putuskan buat
memaksimalkan waktu yang ada untuk meng explore Bandung dan
sekitarnya. Dimulai sejak pagi hari, kami berkunjung ke CFD yang ada
di daerah jalan Dago. Pagi itu Bandung udah ramai dengan lautan
manusia,
mereka tentu punya berbagai kegitan yang sudah disiapkan.
Jalan
Dago
lumayan panjang rutenya sekitar 3 Km.
ditempuh dengan jalan kaki emang agak capek sih, tapi tenang aja kalo
kalian merasa lapar, karena disana dijual aneka makanan dan minuman.
Mulai makanan berat sampai yang ringan. Semua ada. Semua lengkap.
Meskipun
badan mulai berkeringat karena jalan santai, perjalanan masih
berlanjut , kawan. Kali ini rute selanjutnya adalah ke jalan Braga,
jalan asia afrika dan sekitarnya. Setelah sepeda motor diparkir di
tempat yang aman, tempat yang pertama kami kunjungi adalah Masjid
raya Bandung. Yang bikin tempat ini jadi keren adalah disediakannya
lapangan yang luas berwarna hijau, semacam rumput sintetis. Boleh
masuk asalkan sepatu / sandalnya diteruh yang rapi di pinggir
lapangan.
Terlihat
suasana yang ramai dan ceria dari warga Bandung dan sekitarnya.
Mereka menikmati akhir pekan yang menyenangkan, sepertinya. Tak ada
istilah si miskin dan si kaya karena semuanya membaur menjadi satu.
Setelah
foto – fotonya udahan, kami melanjutkan ke jalan merdeka. Disana
tepat berdiri kokoh gedung Merdeka yang diresmikan langsung oleh Pak
Soekarno. Suasana disini juga gak kalah ysama yang dilapangan tadi
kok. Ramai lancar. Hanya saja disini merupakan semacam kompleks
bangunan tua, bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah
kota Bandung. Katanya sih, di daerah sini sering dipake buat lokasi
syuting film. Emang bagus dan terawat tempatnya, kawan.
Lebih
masuk kedalam, kita akan menyusuri jalan Braga. Disana emang dikenal
ikonik banget bagi warga Bandung, semacam jalan Tunjungan di Surabaya
gitu kawan. Disekitar kanan dan kiri jalannya banyak yang menjual
lukisan. Baik yang dijual di emperan jalan maupun yang ada ditoko.
Lukisannya juga tidak jauh – jauh dari suasana kota Bandung
(kebanyakan). Tapi lukisan lainnya juga tersedia kok. Tinggal pilih
sesuka selera aja.
Selain
menjual lukisan di jalan Braga juga banyak toko kue dan kopi yang
konon legend, namun sayangnya saat kami kesana tokonya masih belum
buka, mungkin karena kita kepagian, heheh
Setelah
waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang, kami melanjutkan perjalanan
kami untuk membeli oleh – oleh khas Bandung, yang katanya sudah
menjadi oleh – oleh khas disini. Setelah membeli beberapa potong
kue, kami pun pulang untuk siap2 berkemas. Karena keretaku akan
berangkat sore ini. Sehingga dengan sedikit
waktu yang ada aku manfaatkan untuk istirahat sejenak kawan.
Panjang
juga ya ceritanya, mungkin itu sedikit cerita singkat aku dan temanku
Reza. Semoga bisa menginspirasi buat kalian yang mau travelling ke kota Kembang. Bye ….


Komentar
Posting Komentar